Lontara Kerajaan Suppa menyebutkan, sekitar abad XIV seorang anak
Raja Suppa meninggalkan Istana dan pergi ke selatan mendirikan wilayah
tersendiri pada tepian pantai karena memiliki hobi memancing. Wilayah
itu kemudian dikenal sebagai kerajaan Soreang, kemudian satu lagi
kerajaan berdiri sekitar abad XV yakni Kerajaan Bacukiki.
Kata Parepare ditenggarai sebagian orang berasal dari kisah Raja Gowa, dalam satu kunjungan persahabatan Raja Gowa XI, Manrigau Dg. Bonto Karaeng Tonapaalangga
(1547-1566) berjalan-jalan dari kerajaan Bacukiki ke Kerajaan Soreang.
Sebagai seorang raja yang dikenal sebagai ahli strategi dan pelopor
pembangunan, Kerajaan Gowa tertarik dengan pemandangan yang indah pada
hamparan ini dan spontan menyebut “Bajiki Ni Pare” artinya “(Pelabuhan
di kawasan ini) di buat dengan baik”. Parepare ramai dikunjungi termasuk
orang-orang Melayu yang datang berdagang ke kawasan Suppa.
Kata Parepare punya arti tersendiri dalam bahasa Bugis,
kata Parepare bermakna " Kain Penghias " yg digunakan diacara semisal
pernikahan, hal ini dapat kita lihat dalam buku sastra lontara La Galigo
yang disusun oleh Arung Pancana Toa Naskah NBG 188 yang terdiri dari 12
jilid yang jumlah halamannya 2851, kata Parepare terdapat dibeberapa
tempat diantaranya pada jilid 2 hal [62] baris no. 30 yang berbunyi "
pura makkenna linro langkana PAREPARE" (KAIN PENGHIAS depan istana sudah
dipasang).




Tidak ada komentar:
Posting Komentar